Rabu, 24 November 2021

contoh point point skripsi bahasa arab

 

صفحة الموضوع.............................................................ب
استهلال ................................................................... ج
إهداء.......................................................................د
كلمة شكر وتقدير.......................................................... ه‍
تقرير المشرف ................................................................ز
تقرير لجنة المناقشة........................................................... ح
تقرير عميد كلية علوم والتربية..........................................ط
تقرير رئيسة قسم تعليم اللغة العربية ............................................ ي
إقرار الباحث ............................................................... ك
مواعيد الإشراف ............................................................ ل
مستلخص البحث باللغةالعربية................................................م
مستلخص البحث باللغة الإنجليزية  ............................................. ن
مستلخص البحث باللغة الإندونسيا........................................... س
المحتويات ................................................................... ع


صفحة الموضوع

                      البحث الجامعى
         طريقة تعليم مهارة الكلام في مدرسة الألسن بسيدورجو
مقدم الوفاء بعض شرط الإختبار للحصول على الدرجة سرجانا (S – 1)
لكلية علوم التربية والتعليم في قسم تعليم اللغة العربية
                             إعداد:
                 ايفان قمرالدين الغفاري
                 رقم القيد : ١٤١٥٠٠٧٠
                         المشرف :
                 الدكتور شهداء الماجستير
                 رقم التوظيف : ١٩٧٢٠١٠٦٢٠٠٥٠١١٠٠١

                 قسم تعليم اللغة العربية
               كلية علوم التربيةوالتعليم
       جامعة مولان مالك إبراهيم الإسلامية الحكومية مالانج 
          مايو، ٢٠١٩

Selasa, 16 November 2021

judul skripsi bahasa arab

تحليل المضمون و طرائق البحث في تأليف الرسالة الجامعية لطلاب قسم تعليم اللغة العربية بجامعة سونان أمبيل الإسلامية الحكومية سورابايا



http://digilib.uinsby.ac.id/19088/

Tugas uts mata kuliah Alkitabah III membuat judul buku dan outlen buku

A. Waktu terbaik untuk belajar
1. Waktu yang pertama yaitu waktu sahur. Sekitar sepertiga malam. Waktu ini sangat berharga dan memiliki banyak faedah. Sebagaimana dituturkan dalam sebuah syair:
وقت السحر به يطيب الحال لأهل الصفا # وبه يجود العالي بفضل أهل الوفا
“Waktu larut malam adalah saat termuliakannya keadaan orang–orang suci. Dan pada waktu itu pula Sang Maha Mulia semakin pemurah dengan anugerah untuk mereka yang menepati janji mengunjungi–Nya (shalat malam)”
Selain cocok digunakan untuk belajar, waktu sahur menjadi waktu yang strategis bagi hamba untuk berkomunikasi dengan tuhannya. Sungguh rugi sekali melewatkan waktu ini.
2. Kedua, pertengahan siang hari. Selain dimanfaatkan untuk mencari penghidupan bagi kalangan pekerja, waktu ini dapat digunakan untuk belajar.
3. Ketiga, pagi hari. Tidak diragukan lagi mengapa para guru menganjurkan belajar di waktu ini, karena umumnya, kondisi pikiran manusia di pagi hari masih fresh dan belum banyak digunakan untuk memikirkan sesuatu yang berat. Maka bagi yang ingin belajar, jika tidak ada kesibukan yang begitu mendesak, waktu ini sangatlah cocok bagi kalian.
4. Keempat, waktu malam. Tak usah tanya lagi mengapa waktu ini begitu penting. Ada pepatah yang sangat terkenl di telinga kita, yaitu “Man thalabal ‘ula sahiral layali”, (Siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan, maka bekerjalah sampai jauh malam). Dari sana kita dapat menyimpulkan bahwa meraih kesuksesan, perlu perjuangan di malam hari, yaitu menghidupkannya dengan belajar.
Dalam syair di kitab Ta’limul Muta’allim disebutkan,
أليست من الخسران أنّ الليالي # تمرّ بلا نفع ويحسب من عمري
“Bukankah sebuah kerugian, ketika malam hari terlewatkan tanpa manfaat sedangkan umurku terus dihisab.”       
5. Kelima, ketika dalam keadaan lapar. belajar dalam keadaan lapar lebih utama dibandingkan dalam keadaan kenyang. Ketika perut kita kenyang, rasa malas dan kantuk pun diam-diam menyergap. Hal ini lah yang menjadikan banyak kyai menganjurkan santrinya untuk berpuasa, sebab banyak sekali manfaat yang akan kita peroleh saat lapar.
Diriwayatkan bahwa suatu hari Abu Juhaifah bersendawa di hadapan Rasulullah Saw. Kemudian Rasulullah Saw bersabda kepadanya: “Pendekkanlah sendawamu! Sesungguhnya manusia yang paling lama lapar di akhirat nanti, adalah mereka yang paling banyak kenyang di dunia”. (HR. Al-Baihaqi).

Persamaan dan perbedaan dari materi yang saya buat dengan referensi di buku ta’lim muta’allim karya KH. Abdulloh Kafabihi mahrus tentang masa belajar :

Di dalam kitab ta’lim muta’allim dikatakan bahwa waktu terbaik yang digunakan dalam belajar yakni permulaan masa remaja dan waktu sahur dan waktu diantara waktu maghrib dan isya’. Didalamnya sama-sama mengatakan bahwa waktu terbaik untuk belajar yakni waktu sahur, antara maghrib dan isya’dll, hanya saja bedanya di dalam kitab ada penambahan kata kata waktu yang paling ideal adalah masa remaja.



B. Batas usia kewajiban menuntut ilmu
BELAJAR TIDAK MENGENAL USIA; “Belajar di waktu muda bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai melukis di atas air.” begitulah peribahasa mengatakan. Tujuannya tentu saja untuk memotivasi anak muda agar giat belajar dan menuntut ilmu. Masa muda hendaklah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan.
Namun, bukan berarti orang yang sudah memasuki usia senja sudah tak perlu lagi menuntut ilmu. Banyak orang yang sudah berusia lanjut, menghindar dari kewajiban belajar berdalihkan peribahasa ini. Menurut mereka, masa tua sudah dibebaskan dari kewajiban menuntut ilmu dikarenakan (alasan) daya ingatnya sudah tak mampu lagi.
Seorang imam besar abad pertengahan, Imam Hasan Al-Bashri pernah ditanya oleh seseorang yang usianya sudah 80 tahun, “Apakah orang tua itu masih pantas untuk menuntut ilmu?”
Imam Hasan menjawab, “Jika ia masih pantas hidup…”
Menuntut ilmu merupakan ‘roh’ bagi kehidupan. Siapa pun yang menganggap dirinya masih pantas untuk hidup, maka dia harus belajar dan menambah pengetahuannya. Imam al-Hasan menegaskan, tak ada batasan usia untuk menuntut ilmu. Hanya Cak Lontong, satu-satunya di dunia ini, yang melarang orang untuk menuntut ilmu – “Karena ilmu tidak bersalah, kenapa harus dituntut?” candanya. (hehe..)
Ada banyak kisah yang terekam media. Di antaranya, nenek Shalih yang hafal Alquran di usia 82 tahun. Uniknya, nenek Djauharah berhasil menghafal Al-Quran dalam waktu yang sangat singkat, yaitu 39 hari. Prestasi nenek Djauharah tentu telah ‘mencibir’ anak muda yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menghafal Al-Quran. Ia membuktikan, Alquran telah dijamin kemudahannya oleh Allah swt. untuk dipelajari dan dihafalkan.
Ibnu Mandah berangkat menuntut ilmu di usia 20 tahun dan menghabiskan usianya selama 45 tahun untuk menuntut ilmu di perantauan. Di usia yang sudah senja, 65 tahun, ia baru pulang dan menjadi ulama besar di kampung halamannya.
Betapa antusiasnya orang-orang terdahulu dalam mencari ilmu. Bahkan orang yang sudah tua renta sekalipun tak kalah bersemangatnya dari anak muda. Semangat inilah yang sudah mulai pudar sekarang ini. Padahal, kewajiban menuntut ilmu tak pernah berkurang dengan bertambahnya usia.

Persamaan dan perbedaan dari materi yang saya buat dengan referensi di buku ta’lim muta’allim karya KH. Abdulloh Kafabihi mahrus tentang masa belajar :

Dalam kitab ta’lim muta’alim dikatakan bahwa batas usia seorang menuntut ilmu itu tidak ada batasnya, kewajiban terlaku itu samapai seseorang meninggal dunia. Hanya saja dalam kitab ta’lim tidak dijelaskan secara detail, hanya inti intinya saja.